Sabtu di awal September ini kami sekeluarga berencana
mengadakan Halal Bihal di daerah Jelambar Daan Mogot Jakarta. Hal ini adalah
pengalaman baru bagi kami yang belum pernah ke Daan mogot .
Mengingat
kami membawa anak yang berusia 5 dan 2 tahun maka tidak mungkin kami
menggunakan kendaraan roda dua ke daan mogot karena menurut tetangga sangat
jauh perjalanannya dari Bekasi ke Daan Mogot.
Mbah google pun memberikan alternatif yang cukup banyak
hingga kami pun bingung memilahnya. Akhirnya diputuskan menggunakan 3 jenis
kendaraan berbeda dengan rute:
1. Setu Bekasi
– Stasiun Bekasi (Sepeda Motor)
2. Stasiun
Bekasi – St. Juanda (Komuter line)
3. St. Juanda
– Indosiar (Busway Koridor 3)
4. Indosiar –
Jelambar No. 50 (Microlet)
Sepeda motor kami gunakan dari Rumah di Daerah Setu Bekasi
hingga Stasiun Bekasi, pukul 8.15 pun kami meluncur dan pada pukul 09.15 tiba
di stasiun. Lalu kami menuju loket untuk membeli tiket ke Juanda, total yang
harus kami bayar sebesar Rp 24.000,- untuk 3 tiket karena anak yang kecil baru
umur 2 tahun jadi tidak diharuskan membeli tiket (Minimal Umur 3 Tahun harus
beli 1 tiket Komuter line). Sebenarnya harga tiket hanya Rp 3.000,- saja tetapi
ada uang jaminan kartu sebesar Rp 5.000,-/kartunya.
Alhamdulillah, komuter line sudah standby di jalur 2 menuju Kota
yang dijadwalkan berangkat pukul 09.20. Pada pintu masuk diharusnya menempelkan
kartu agar bisa masuk, tempelkan kartu pada tandanya tunggu hingga warna hijau
lalu dorong saja pembatasnya untuk masuk. Ketika kami naik sudah cukup ramai
setiap gerbongnya walaupun yang berdiri tidak terlalu banyak karena bukan hari
kerja. Di luar dugaan, pengalaman terakhir naik kereta masih berdesakan, banyak
pedagang dan tidak bersih ternyata saat ini komuter line sudah lebih baik.
Gerbong sudah bersih dan bebas dari pedagang, ber-AC nyaman dan yang terpenting
masih ada yang mempersilahkan orang tua yang membawa anak kecil untuk duduk.
Anak-anakpun riang naik kereta karena baru kali pertama naik kereta, niatnya ingin
memberikan sarapan untuk anak-anak di kereta tetapi ternyata terdapat peraturan
yang tidak memperbolehkan makan dan minum di kereta jadi kami pun
mengurungkannya (dukung peraturan yang ada agar lebih baik).
Pada setiap stasiun dimana setiap 500m akan ada suara
pemberitahuan nama stasiun yang akan disinggahi, jadi tidak perlu khawatir bagi
yang kali pertama naik kereta akan salah turun (berbeda sekali dengan dahulu
yang harus melongo ke jendela untuk melihat nama stasiunnya dan stasiun
berikutnya). Kurang lebih pukul 10.00 sampai di stasiun Juanda tempat
pemberhentian kami, cukup bersih stasiunnya dan tidak ada pedagangnya. Menuju
pintu keluar, kembali kartu di tempelkan pada tempatnya. Niatnya ingin
menukarkan kartunya langsung ke loket agar uang jaminan dapat dikembalikan tapi
mengingat waktunya sudah sempit maka kami lanjutkan ke Busway jurusan
Kalideres. Tidak jauh dari pintu keluar sebelah kiri terdapat koridor bus way
nya. Total tiket yang dibeli 3 buah dengan harga Rp 10.500,- (Rp 3.500/tiket).
Pengalaman naik bus way tidak jauh berbeda dengan pengalaman
6 bulan yang lalu, tetap kurang nyaman baik dari petunjuk arah busway serta
keadaan busway nya itu sendiri. Cukup lama kami menunggu busway yang akan ke
arah Kali deres, dari 10 armada Busway yang lewat hanya 2 yang ke Kali Deres
dan itupun sudah penuh sisanya 8 armada lebih banyak ke Harmoni (tidak paham
mengapa jarang sekali yang ke arah Kali Deres). Hati-hati saat naik busway,
seringlah bertanya ke petugas kondekturnya ke arah mana busway tersebut karena
tidak setiap petugas secara inisiatif memberitahukan tujuan busway tersebut.
Dengan terpaksa dan tidak nyaman, kami pun naik busway yang
sudah penuh dan Alhamdulillah ada orang yang peduli memberikan tempat duduknya
untuk anak-anak. Selama perjalanan naik busway ternyata keadaannya tidak jauh
berbeda naik metromini, karena kondisi busway yang sudah berkarat, banyak
bagian yang sudah tidak terawat bahkan sudah tidak pada kondisi terbaiknya
ditambah jalanan yang tidak mulus sehingga membuat penumpangnya senantiasa
mengingat Sang Pencipta (banyak istigfar).
Setelah sampai di Indosiar kami pun melanjutkan dengan
Microlet ke jelambar No. 50 dan tiba pada pukul 11.40. Setelah acara selesai,
kembali kami berniat untuk rute yang sama. Tetapi ternyata tidak semudah yang
dipikirkan karena perjuangan belum selesai….
Perjalanan dari Jelambar No. 50 ke Bekasi tidak sesuai dengan
rencana, seharusnya serupa dengan perjalanan berangkat tetapi pada kenyataannya
tidak demikian. Hal ini terjadi setelah sampai di Halte Jelambar Busway,
ternyata hampir tidak ada busway yang ke arah Juanda, hampir 60 menit menunggu
semua busway yang lewat hanya ke harmoni, balai kota atau pulo gadung. Akhirnya
kami memutuskan naik ke arah pulo gadung, niatnya sieh mau turun di Gambir dan
lanjutkan komuter line ke Bekasi, ternyata informasi yang didapat tidak ada
komuter line dari Gambir sehingga kami bablaskan ke Halte Pulo Gadung. Di dalam
busway sudah menumpuk sehingga harus berdiri dan alhamdulillah anak dapat duduk
dan tertidur karena lelahnya. Setelah sampai di Halte Pulo Gadung kami
melanjutkan naik Angkot jurusan Pulo Gadung – Perumnas 3 (K-01) dengan ongkos
Rp 6.000,- per orang. Perjalanan cukup padat merayap hingga pukul 17.30 kami
baru sampai di depan terminal Bekasi untuk mengambil motor dan dilanjutkan
pulang ke Rumah.
Niatnya ingin menukarkan kartu komuter line di loket, tapi
setelah melihat antrian loket yang cukup panjang akhirnya diurungkan dengan
mencoba mengikhlaskan Rp 15.000,- dana jaminan yang mungkin akan hangus setelah
7 hari tidak ditukarkan. Parkir motor sengaja di parkir rumahan yang biayanya
flat Rp 3.000,- dari pada harus memakirkan di dalam Stasiun yang tarifnya per
jam.
Pelajaran yang dapat kami peroleh dari perjalanan tersebut
adalah:
1. Persiapkan
dengan matang rute perjalanan dan buatkan berbagai alternatif planning
2. Hindari
menggunakan busway bila membawa anak kecil
3. Lakukan
perjalanan di hari kerja atau jam kerja agar tidak terlalu padat
Semoga bermanfaat



Tidak ada komentar:
Posting Komentar